Thursday, November 10, 2011

Pahamilah Adikku, dan Kau akan Bahagia

“Gimana ya Teh...” katanya sambil mengerut-ngerutkan dahi.  “aku merasa nggak butuh ikut-ikut kegiatan kayak gitu,”

Seketika aku diam, seakan perkataannya menyerap semua kalor yang kumiliki, lalu membuatku beku seperti vampir. Aku memalingkan muka, memandang kosong ke arah koridor di seberang sana. Mataku melihat apa yang ia juga lihat –  koridor abu-abu, dengan jendela-jendela dan pintu kelas; beberapa kawan yang sedang bersendagurau di tepiannya sambil melayangkan pandangan sesekali ke lapangan dalam, atau ke lantai tiga, atau ke arah koridor tempat kami berdiri – namun pikiranku tidak bersama dengan apa yang kulihat. Pikiranku tidak di sana.

“Kayaknya mau fokus di pelajaran aja,” lanjutnya.
“karena aku rasa itu penting buat bisa lanjut kuliah di PTN yang aku mau. Lagian, tanpa ikut ekskul pun aku bakalan sibuk banget ngejar nilai, bikin tugas segala macem. Yah, tau sendirilah SMANSA kayak gimana. Kayaknya organisasi-organisasi gitu cuma bikin tambah capek. Nggak ada manfaatnya buat masa depan aku.

Aku masih diam. Namun sekarang aku merasa ada yang meletup-letup di dadaku. Perasaan yang mulai membakar sisi lembutku sebagai seorang perempuan. Perasaan yang membuka segel keberanganku sendiri, yang selama ini terkunci rapat entah di bagian mana dari hati seorang Ayu Ginarani. Apa sih ini? Amarah kah? Pantaskah aku marah? Bolehkah aku marah kepada bocah ini, yang mengatakan hal menyentil karena memang dia sama sekali belum mengerti?

Perlahan-lahan aku sanggup menguasai diri. Ya, bocah ini hanya belum memahami apa yang telah kupahami. Jika saja kamu paham, dik. Jika saja kamu tahu, betapa hambarnya bersekolah di SMANSA tanpa menantang diri sendiri agar bisa menyeimbangkan waktu dan tenaga untuk belajar dan berorganisasi. Jika saja kamu tahu, tentang manisnya kehidupan yang akan kamu temui dengan berorganisasi. Jika saja kamu tahu, tentang indahnya pahatan kepribadian pada dirimu kelak, dikarenakan pengalaman-pengalaman berorganisasi yang bagaikan tangan-tangan terampil yang membentuk dirimu menjadi pribadi yang lebih baik. Jika saja kamu tahu dan paham, akan semua yang telah aku ketahui dan pahami.

“Teh Yugin kok diem?”

Aku mengerjapkan mata dua kali sambil tersenyum ganjil. Seperti dalam roman-roman picisan, tepatnya saat adegan dimana ada seseorang yang sedang dirundung duka, lalu memaksa dirinya untuk tersenyum dan kemudian bermonolog dalam hati, “Aku kuat. Ya, aku harus kuat,”  
Ya, aku harus kuat menghadapi bocah ceplas-ceplos yang ‘belum mengerti’ ini.

            “Em, habis bingung mau ngomong apa..” kataku singkat.

Kali ini gilirannya yang diam.
***

Kini aku mengerti bagaimana perasaan Aa dan Tetehku dulu, ketika aku berpendapat menyentil, persis seperti bocah yang satu ini. Persis ketika aku memiliki mindset “Organisasi Bikin Prestasi Turun” atau ketika diundang wawancara OSIS namun aku tidak datang karena tidak berminat menjadi pengurus. Dan walaupun akhirnya aku ikut semi organisasi juga atas dasar rasa penasaran, ketika aku diwawancara dan ditanya apakah ingin menjadi Dewan Harian, aku menjawab dengan, “Nggak a, teh, nanti ganggu pelajaran,”
Kini aku mengerti bagaimana kesalnya berhadapan dengan seseorang dengan pikiran buruk tentang organisasi. Rasanya ingin teriak seperti ini langsung di depan mukanya:

“Memangnya hidup kamu itu akan sukses, aman, damai, sejahtera dengan berbekal pinter di otak doang??”
“Sibuk? Pastilah sibuk. Tapi kalo nggak dari sekarang belajar sibuk, belajar bagi waktu, kapan mau berkembang?”
“Bukannya nanti kalo udah dewasa bakal lebih banyak biang sibuknya? Kuliah, pekerjaan, rumah tangga, plus ibadah, kehidupan di SMANSA belum ada apa-apanya dibandingkan dunia luar yang keras !”
“Zaman sekarang itu susah cari kerja. ‘Otak’ bisa kalah sama yang punya banyak intel atau relasi. Dengan berorganisasi, melalui setiap kegiatannya kita bisa punya banyak teman dan relasi,”

Atau ekstrimnya sih gini:

“Kalo kehidupan SMA cuma diisi dengan belajar, nanti kalo udah jadi oma-oma keriput atau opa-opa jenggotan, mau cerita apa ke anak cucu?”

***

Bocah ini sepertinya menungguku untuk berkata-kata. Dia baru saja mengutarakan pendapatnya yang menyentil, secara polos dan blak-blakan, jujur dari dalam hatinya. Jadi sekarang giliranku, untuk menyentil balik pendapatnya. Ini saatnya mengubah pola pikirnya dan menanamkan pemahamanku di pikiran dan hatinya. Sejujurnya aku agak bingung bagaimana harus mengawali. Akhir yang baik seharusnya bermula dari awal yang baik, bukan?

Aku berkata,

“Semua orang memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya. Tinggal pilih sesuai kemauan dan kemampuan. Hak itu juga berlaku kok, di SMANSA. Kamu bebas pilih, mau fokus belajar, maniak organisasi, atau fifty-fifty. Mau jadi anak bandel yang sering cabut juga silahkan, tapi aku saranin sih jangan.”           
“Hahaha, nggak lah Teh, masa iya aku cabut-cabutan, mau jadi apa. Tukang Cabut Paku?” katanya. Ngegaring.

Untuk menghargai garingannya, aku tertawa renyah. Aduh, tidak bisakah bocah ini serius walau sebentar saja..
“Em, dulu aku juga sama kok, maunya belajar aja. Males ikut-ikut kegiatan gitu. Tapi lama-lama iri deh sama anak-anak yang aktif.”
“Maksudnya iri, Teh?”
 “Kok mereka seakan menemukan kesenangan ya dalam kesibukan berorganisasi? Kalo ngumpul bareng mereka juga pasti mereka punya cerita seru tentang organisasinya. Entah cerita saat regennya lah, saat kegiatannya lah, saat jadi panitia acaranya lah, atau apapun itu. Dan sepengamatan aku, mereka makin lama makin kompak, seolah organisasi dan segala kegiatannya itu menyatukan mereka.”

Dia mengerutkan dahi, kali ini sambil mengetuk-ngetukkan pulpen yang dipegangnya.

“Seolah-olah, mereka memiliki rasa saling memiliki. Seolah-olah, organisasi itu telah menjadi keluarga kedua mereka, dimana mereka bahu-membahu mempertahankan kekokohan dan kejayaan organisasi itu, dimana mereka saling belajar dan melengkapi kekurangan satu sama lain, dimana mereka belajar banyak bekal kehidupan yang nggak akan ditemui di pelajaran sekolah.” lanjutku panjang lebar.

Ketukan pulpennya berhenti. Entah karena tangannya pegal atau karena perkataanku barusan berhasil menamparnya.

“Tapi Teh, kalo maniak organisasi gitu apa pelajaran nggak keteteran?” tanyanya
“Tergantung pilihan seseorang sih, banyak kok orang yang memilih fifty-fifty, yaitu seimbang antara belajar dan berorganisasi, dan sukses didua-duanya. Dia aktif organisasi dan punya prestasi oke. Kalo dia aja bisa, kenapa kita nggak?
“Memang pada awalnya pasti susah, membagi waktu, tenaga, pikiran, dan banyak mengorbankan waktu main. Tapi disitulah tantangannya, terlebih lagi di saat kita berhasil menyelesaikan tantangan itu, senangnya bukan main. Dan sadar atau nggak, kita sudah berhasil meng-upgrade diri sendiri.”
“Kok lucu sih Teh, menantang diri sendiri, terus udahannya kita jadi ter-upgrade,”
“Lebih tepatnya, seru. Keluar dari zona aman, dihujani ketidakamanan dan ketidaknyamanan, tapi ya disitulah serunya. Contoh, besok mau ulangan tapi masih harus mengurusi acara organisasi. Rasanya ribet banget, bikin stres juga. Seakan kita ditempa oleh berbagai macam cobaan, lalu jatuh terpuruk. Tapi saat kita bisa bangkit dari keterpurukkan itu, kita berhasil menjadi pribadi yang lebih baik. Saat kita mensukseskan keduanya, yaitu ulangan dan acara, kita telah menguasai ilmu baru tentang manajemen diri. Apakah ilmu itu bisa didapat dari pelajaran sekolah? Nggak dong,”

Ada senyuman di wajahnya sekarang. Seolah dia mulai memahami apa yang sedang aku berusaha jelaskan. Seolah dia telah merasakan apa yang kuingin ia rasakan: kebahagiaan berorganisasi. Walaupun aku juga tahu bahwa dia pun bahkan belum memulai pengalaman organisasinya, tetapi aku senang aku berhasil membuatnya percaya akan adanya kebahagiaan itu.

           “Menurut Teh Yugin, KIR dan eASY itu gimana?”

Aku senang ditanya begitu. Aku senang membuka arsip-arsip kenangan di ingatanku, menyadari begitu banyaknya dokumen tentang dua keluarga yang sangat kusayangi.
Aku menjawab,

“Aku suka KIR, dia punya orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan, yang dapat memotivasiku untuk semangat belajar. Kami saling memberi, berbagi pengetahuan yang kami punya. Acara-acara KIR tidak semuanya dikhususkan untuk pengurus. Kami juga mengundang yang lain untuk berpartisipasi. Kami ingin banyak memberi kepada SMANSA dan masyarakat luas.
“Aku suka eASY, dia punya orang-orang kreatif, berwawasan luas, dan visioner. Mereka hebat dengan cara mereka sendiri. Aku dulu memutuskan untuk masuk eASY agar aku dapat memperbaiki bahasa Inggrisku. Ternyata yang kudapat jauh lebih banyak. Jauh, jauh, jauh lebih dari sekedar kemampuan berbahasa bahasa global, tapi juga kemampuan untuk berpikir secara global.”

Dan dia pun mengangguk-angguk paham. Akhirnya dia paham.
Pahamilah adikku, dan kau akan bahagia.


Ditulis oleh Ayu Ginarani
dengan sepenuh hati untuk adik-adiknya.

Aku hanya siswa biasa
Tapi melalui organisasi, aku bisa memberi hal-hal luar biasa
kepada SMANSA

No comments:

Post a Comment